Jump to Navigation

APPH bag 1 bab 3

3. Kesempatan misterius.

 

Semua orang sedang menunggu perintah yang diturunkan So Bong-seng.

Menunggu sebuah perintah dari So kongcu.

“Beritahu ke semua orang, pada tanggal dua puluh satu bulan sebelas jam  enam sore, akan diselenggarakan upacara penganugerah-an tanda jasa kepada Pek ji-loucu atas jasa jasanya selama belakangan ini.”

Akhirnya, So Bong-seng menurunkan “perintah”.

“Aku berpendapat, Pek hu-loucu telah membawa semua orang menuju ke arah yang jauh lebih baik, dalam hal ini, bukan saja dima-sa lalu tak sanggup kulakukan, bahkan ayahku sendiri pun tak mam-pu melakukannya, jadi pantas diberi tanda jasa, pantas diberi sela-mat, aku yang selenggarakan perjamuan ini, sementara tamu boleh dia yang mengundang.”

Dia memang telah menurunkan sebuah “perintah”.

Selesai mendengar “perintah” yang diberikan So Bong-seng, Yo Bu-shia merasa sedikit sedih dan mengeluh.

Sedih dan keluhannya, tak mungkin lebih dalam dari perasaan To Lam-sin waktu itu.

Malaikat bengis lima penjuru yang dahulu selalu mendampingi So loucu, kini hanya tersisa Kwik Tang-sin yang jejaknya susah dilacak serta To Lam-sin yang makin hari makin menua, tapi masih setia sampai mati.

Sementara dari “tiga Bu” yamg selalu menempel dan menjaga keselamatan So loucu, Hoa Bu-co telah berhianat dan tewas, Say Bu-kui tewas kena bokongan gelap, yang tersisa pun hanya dia seorang.

So kongcu, So loucu yang dahulu, begitu gagah, begitu perkasa, tapi kini, hanya pembaringan yang menemaninya sepanjang hari.

Perasaan hatinya pun tidak menjadi lebih baik.

Dia bertanggung jawab untuk “menyampaikan kabar” kepada Pek Jau-hui.

Ketika membawa surat undangan itu, dia merasa beratnya melebihi besi baja, dia merasa kalau dirinya sudah mulai tua, selewat ini, mungkin nasib dan rejeki pun ikut berubah jadi jelek.

Sewaktu Pek Jau-hui menerima surat undangan itu, si nona yang cantik manis berambut panjang, bertelanjang kaki itu masih menari tiada hentinya dengan bibir yang merah merekah dan jari jemari yang lemah gemulai.

Pek Jau-hui suruh orang merobek surat undangan itu.

Orang yang merobek undangan itu adalah Ouyang Yi-yi.

Dia lakukan dengan sangat hati-hati, mungkin saja seputar surat undangan telah dibubuhi obat pemabuk, atau ada racun ganas ….

Ketika dia mengetahui isi surat undangan itu, keningnya segera berkerut, gumamnya:

“Kesempatan misteri apa yang sedang dipersiapkan?”

Ouyang Yi-yi memutar biji matanya, dengan nada rendah tapi berat, tanyanya:

“Kongcu akan pergi? Atau tidak?”

Sorot mata Pek Jau-hui dialihkan ke wajah Siang Ko-ji.

Sejak awal, Siang Ko-ji telah melaporkan semua yang dilihat dan didengar kepada Pek Jau-hui, oleh karena itu sekarang, dia ha-nya berkata:

“Menurut pandanganku, So loucu masih menaruh kepercayaan penuh kepada kongcu, tak perlu diwaspadai, lebih baik ……..”

Namun Ouyang Yi-yi tidak sependapat.

“Kemungkinan besar undangan ini hanya lingkaran jebakan,” katanya, “terlalu berbahaya bila datang memenuhi undangan.”

Sementara kedua orang itu masih ribut dan berdebat, Pek Jau-hui telah menukas:

“Bila ingin tahu keadaan yang sesungguhnya, kenapa tidak bertanya kepada seseorang.”

“Siapa?”

“Su Tay-hu.”

Selama ini, Su Tay-hu selalu mengobati penyakit yang diderita So Bong-seng, sudah sebelas tahun dia menjalankan tugasnya, hanya dia seorang yang mengetahui paling jelas keadaan So Bong-seng, khususnya mengenai kondisi sakitnya.

Su Tay-hu “diundang” datang Pek Jau-hui, mula mula dia tidak meragukan orang ini, tapi setelah Pek Jau-hui menanyakan persoal-annya, ia baru tertawa tertegun, tenggorokannya seakan tertusuk sebatang sumpit.

Kemudian dia tak bicara apa apa lagi.

Pek Jau-hui segera mengundang datang dua orang.

Kemudian, dengan alasan masih ada urusan lain, dia tinggal-kan tempat itu.

Begitu ke dua orang itu muncul, dan baru saja turun tangan, mau tak mau Su Tay-hu harus berbicara.

Baru saja dua orang itu bekerja, Su Tay-hu sudah tersisa sebuah mata, karena mata yang lain sudah dicongkel keluar lalu dipaksa untuk ditelan ke dalam perut sendiri.

Ke empat jari tangannya, tak ada yang patah, hanya ada yang hangus terbakar, ada yang membusuk, ada yang ditembusi jarum hingga tembus tulang, ada yang ditindih hingga gepeng seperti daging empal, ada juga daging yang masih utuh namun tulangnya sudah terlepas dari sana.

Bahkan ada yang cukup membuat orang tidak percaya, karena jari tangan dan separuh telinga itu sudah dipasang diujung mercon, kemudian ….. Blaaam! Meledak diudara dan hancur berkeping keping.

Biar pun telinga yang lain dari Su Tay-hu telah tuli, namun dia masih dapat mendengar suara ledakan tersebut dari telinga lain yang penuh berpelepotan darah.

Mereka tidak membuatnya bisu, tidak membuatnya tuli, sebab Su Tay-hu harus bisa mendengar pertanyaan yang diajukan dan sanggup menjawab semua pertanyaan.

Bagi ke dua orang itu, siksaan yang mereka lakukan saat ini, belum termasuk sebuah siksaan.

Masalahnya karena Pek Jau-hui masih ingat kalau orang itu adalah sahabat lamanya.

Pek Jau-hui pernah dua kali terluka cukup parah, pernah bera-pa kali sakit, Su Tay-hu lah yang telah mengobati hingga menyem-buhkan semua sakit dan lukanya.

Sementara dua orang yang diundang untuk melakukan siksaan itu, tentu saja adalah Liam Lau dan Liam Wan yang pernah diminta bertindak dalam pesta keluarga Hoa.

Terhadap urusan siksa menyiksa, kedua orang itu selalu Liam Lau (bertanggung jawab penuh) dan Liam Wan (kebal dicerca maupun disalahkan).

Dalam kota raja, tentu bukan hanya kelompok keluarga Hoa serta kelompok keluarga Un saja yang menduga-duga situasi perta-rungan dalam loteng.

Lui Tun yang sedang menikmati harumnya bunga bwee pun tidak terkecuali.

Berada dalam kebun bunga bwee di perkumpulan Lak-hun-poan-tong, Lui Tun tampil bersih bagaikan salju yang baru turun membasahi permukaan bumi, dia sedang berdiri sambil mengawasi bangunan pagoda nun didepan sana.

Puncak pagoda berada ditengah kepungan empat bangunan loteng berwarna warni, ditengah hujan salju, terlihat bangunan itu masih memancarkan kejayaan serta kekokohan yang luar biasa.

Tapi, bagaimana dengan manusianya?

Apakah orang yang tinggal diatas loteng masih terbelenggu oleh sakit dan tak mampu bangun?

Orang itu adalah orang yang hampir saja menikah dengan diri-nya, tapi kemudian justru menjadi musuh yang telah membunuh ayahnya.

Dia termenung hingga suara lembut Ti Hui-keng berku-mandang dari sisi tubuhnya.

Sudah pasti orang itu adalah Ti Hui-keng.

Bukan saja karena hanya Ti Hui-keng yang bisa mengham-pirinya tanpa merasa ragu dan takut, karena juga hanya Ti Hui-keng yang bisa mengubah nada ucapan yang dingin angkuh, berubah jadi lemah lembut penuh perasaaan.

“Hati hati kalau sampai masuk angin.”

Lui Tun tersenyum.

Ti Hui-keng mengenakan mantel tebal di tubuh nona itu.

“Kenapa dia?”

“Dia?”

“So Bong-seng.”

“….. Ooh,” dengan cepat Ti Hui-keng pulih kembali seperti sedia kala, “menurut berita yang dilaporkan Mo Pak-sin, konon Pek Jau-hui telah menebang “pohon luka” yang amat disayang So Bong-seng, akan tetapi …….”

Kembali Lui Tun tersenyum, seperti sekuntum bunga bwee merah ditengah hujan salju, katanya:

“Akan tetapi, So Bong-seng sama sekali tidak menegur maupun menyalahkan dia bukan?”

Didalam hati kecil Ti Hui-keng, mau tak mau harus meng-agumi akan tepatnya dugaan serta analisa Lui Tun.

“Dia bahkan akan selenggarakan pesta perayaan besok, untuk merayakan kehebatan Pek Jau-hui, katanya, dia telah berbuat jasa besar demi perkumpulan Kim-hong-see-yu-lou …….”

Ti Hui-keng menarik sedikit dagunya dan menambahkan:

“Sekarang, hujan badai sedang bersiap siap melanda dalam loteng ……”

“Kalau begitu, Su Tay-hu harus lebih hati hati.” Pesan Lui Tun perlahan.

Ti Hui-keng tertegun, tapi dengan cepat dia memahami apa yang dimaksud perempuan itu.

“Bukankah begitu?” terdengar perempuan itu berkata lagi sedih, “kini, salju pun sudah turun.”

Sewaktu berbicara, dia bergendong tangan, bahunya sangat kurus, pinggangnya amat ramping dan lembut.

Ia sedang mengawasi pohon bwee yang tua itu.

Dahulu, ayahnya Lui Sun paling suka menikmati pohon bwee yang sudah tumbuh tiga generasi ini.

Pohon bwee itu tumbuh persis didepan kamar tidur Lui Tun.

Dari sana, ia dapat mengamati seluruh bangunan perkumpulan Kim-hong-see-yu-lou yang megah dan menterang, disana berbaring tokoh persilatan maha sakti yang sudah lama sakit tapi tak mati serta selalu mengendalikan dunia persilatan di kotaraja.

Dia pun dapat memandang pagoda gading gajah yang pernah mereka diami serta loteng hijau, pusat kendali seluruh perkumpulan.

Memandang dari samping, Ti Hui-keng merasa wajah Lui Tun makin dingin semakin cantik, makin beku semakin bening ….

Lui Tun seakan sedang menanti.

Apa yang dia nantikan?

Balas dendam? Menunggu kehadiran musuh? Atau mengawasi musuh dengan pandangan bodoh? Membiarkan musuh saling bantai, saling membunuh? Bagi seorang wanita yang tujuh puluh persen lembut, tiga puluh persen sakit hati, apa lagi yang bisa dia lakukan?

Selama ini dia hanya mengawasi bunga bwee, mengawasi pagoda yang berlapis salju.

Bagaimana dengan orang dibalik pagoda?

Tokoh persilatan yang pernah malang melintang dengan gagah perkasa, serta mengendalikan tujuh puluh delapan ribu anak buah itu, kini sedang sakit parah dengan kondisi yang mengenaskan.

Kini, dia sudah didesak terus oleh tokoh sakti hasil bimbingan dan gemblengannya, yang selangkah demi selangkah menekannya, apa yang bisa dia pikirkan sekarang? Apa yang bisa dilakukan? Menunggu mati? Atau menunggu serangan balik?

Atau diapun sedang menengok dari balik jendela, mengawasi seorang perempuan yang berada dibalik kebun nun jauh didepan sana, gadis cantik yang sedang menantikan kekalahannya, kematian serta saatnya roboh …..?

Ti Hui-keng yang berada disisinya tampak ragu, haruskah dia beritahu kepadanya, konon, menurut laporan dan isu: Ong Siau-sik telah kembali lagi ke kotaraja.



Who's online

There are currently 0 users online.

Main menu 2

Dr. Radut Consulting