Jump to Navigation

See Yan Tjin Djin

Karya Karya SYT

 

Tjan Brothers Publising

Karya Karya Tjan ID

 

 

Dewi maut jilid 2

Dewi Maut jilid 1

Bab 1.

 

 

HUJAN rintik rintik.

Bintang dan rembulan redup.

Berpisah dengan kekasih, air mata bercucuran.

Harapan kini....

Tak pernah tercapai...

Oh kasih di mana kau berada ?

....cinta sedalam samudra.

.....Benci seluas jagad,

Sampai kapan kasih baru berjumpa ?

Air mata kasih.

Senyuman benci.

Kasih sayang tinggal kenangan.

Berpisah hari ini.

Sampai kapan baru bersua?

Hanya nasib dan takdir yang menentukan

 

Dewi Maut

APPH bag 1 bab 2

2. Kesempatan emas.

 

Dalam perkumpulan Kim-hong-see-yu-lou terdapat empat bangunan loteng dan sebuah pagoda.

Ke empat bangunan loteng itu adalah loteng hijau, loteng me-rah, loteng kuning dan loteng putih.

Loteng putih adalah tempat untuk menyimpan dan mengum-pulkan semua data  perkumpulan.

Tempo hari, ketika untuk pertama kali menginjak tempat ter-sebut, Ong Siau-sik yang selamanya tak suka terikat dan Pek Jau-hui yang punya ambisi setinggi langit, sempat dibuat kaget dan terkagum kagum oleh ketelitian cara kerja serta betapa besar dan luasnya departemen ini.

Loteng merah merupakan pusat berkumpulnya segala keku-atan silat, termasuk senjata dan manusianya, ditambah “kekuatan” lain yang tidak banyak diketahui orang.

Tempo hari, Yo Bu-shia sempat mengeluarkan bahan dan data asal usul yang begitu terperinci dan detil dari tempat itu, yang cukup membuat Ong Siau-sik yang tak pernah gentar biar langit ambruk serta Pek Jau-hui yang bernyali amat besar serta tekebur itu jadi terperangah.

Tempat itu merupakan pusat kekuatan yang sesungguhnya dari organisasi raksasa itu.

SHD bab-15

Bab 15

 

MENJELANG lohor Jiauw Pie Jielay mengajak Han Han mengelilingi dusun itu untuk menyenangi hati si bocah, Juga sipaderi membelikan satu perangkat pakaian baru untuk Han Han, sehingga sibocah she Han jadi terharu melihat kecintaan si Hwee-shio terhadap dirinya. Dia menghaturkan terima kasih berulang kali.

Khu Sin Hoo juga mengajak Han Han ketempat- hiburan, agar hati sibocah gembira. Ketika mereka sedang berada di jalan Ciong-yan, tiba-tiba dari depan mereka mendatangi seorang tabib kampung yang sedang berjalan dengan dituntun seorang bocah, karena dia memang seorang tabib yang sudah tua rentah, dan kalau tak dibantu oleh sibocah itu yang menuntun tangannya, mungkin dia akan rubuh terguling ...... Sambil berjalan selangkah-selangkah, mulutnya berteriak: ''Tabib dewa penyembuh penyakit aneh dan luar biasa ! Tabibdewa penyembuh penyakit yang sudah lama mengendap di tubuh !! Tabibdewa....."dan tiba-tiba sikakek tabib yang sudah tua itu tak meneruskan perkataannya, karena dia telah melihat'Jiauw Pie Jie-lay Khu Sin Hoo dan Han Han yang mendatangi padanya. Diawasinya wajah Han Han, sepasang alisnya berkerut.

SHD bab-14

Bab 14

 

DIANTARA gemuruhnya sorak-sorai orang-orang Mo-in-shia yang ada di kedua kapal yang mengikuti kapal Coa Wie Sie, tampak meluncur mendatangi sebuah kapal yang besar dari jurusan muka. Kapal itu diperlengkapi oleh tiga layar dan dipuncak tiang layarnya, berkibar sehelai bendera, dimana terlukis sebuah tengkorak manusia dan dibawah tengkorak itu, terlukis sepasang pedang yang berwarna merah. Kapal itu meluncur mendatangi bagaikan sebuah bayangan gunung yang menjulang tinggi.

Coa Wie Sie sendiri jadi gemetar ketakutan, wajahnya pucat pasi. Dia takut perahunya ketabrak oleh kapal itu, perahunya pasti akan hancur berantakan.

Thian-san Sian-eng sendiri jadi pucat wajah mereka waktu melihat kapal itu.

"Mo-in-shia !!" mereka berseru tertahan hampir berbareng. '

Hanya Khu Sin Hoo yang menatap kedatangan kapal besar itu sambil mengerutkan alisnya, dia mendengus, lalu tanpa memperdulikan semua orang yang berobah wajahnya menjadi pucat, si-Hwee-shio kembali kedekat Han Han.

Tatmo Cauwsu Bag.18 tamat

 

 

Jilid 18

MAKA ia telah berkelit dengan gerakan seperti orang yang sempoyongan mabok arak, tubuhnya bergoyang kekiri dan kekanan tidak hentinya, dan diwaktu itu ia juga telah beberapa kali mempergunakan serulingnya untuk menangkis. Cepat sekali se­rulingnya itu telah menghantam berulang kali, membuat pedang Thio Su Ing seperti tergetar dan sering hampir terlepas dari cekalannya.

Begitulah, kedua orang ini terus juga bertempur dengan saling mengeluarkan tenaga dan kepandaian mereka, terutama sekali Thio Su Ing yang telah mempergunakan il­mu pedangnya, dimana ia mempergunakan Kiam-hoat, ilmu pedang yang paling isti­mewa yang dimilikinya.

Sinar pedang itu ber-gulung2 menyambar kepada Yin Sui Hong. Walaupun memang tampaknya ia tidak bisa merubuhkan Yin Sui Hong, kenyataannya memang terlihat jelas betapa ia berlaku nekad, sehingga dengan kenekadannya itu, ia memaksa Yin Sui Hong harus berlaku hati2, karena Yin Sui Hong tidak mau terbinasa atau bercelaka bersama dengan lawannya.

Sam Liu Taisu yang melihat jalannya pertempuran tersebut, menghela napas. Ia akhirnya merangkapkan kedua tangannya sambil memuji kebesaran sang Buddha : "Omitohud! Omitohud! Hentikanlah......hentikanlah!"

SHD bab-13

  

Bab 13

 

KHU SIN HOO Jiauw Pie Jilay mengajak Han Han bermalam di Sian-lie-chung, kampung bidadari, yang terletak di tepi sungai Sui-ho. Mereka menginap di sebuah penginapan kecil yang terdapat di kampung itu, juga Khu Sin Hoo membelikan Han Han beberapa perangkat pakaian.

Telah dua hari mereka melakukan perjalanan, dan selama itu Khu Sin Hoo tak melihat adanya tanda-tanda serangan hawa Im-yang di tubuh bocah itu kumat kembali, walaupun wajahnya masih bersemu kehijau-hijauan.

Tapi menjelang tengah malam, di saat Kho Sin Hoo mau tidur setelah bersemedi, hatinya jadi mencelos waktu melihat tubuh si bocah mengigil seperti orang kedinginan. Han Han tidur di pembaringan di seberang, sehingga dia dapat melihat getaran tubuh bocah itu, walaupun dia tak mendengar suara rintihan si bocah.

Cepat-cepat Khu Sin Ho menghampiri, dia memegang tubuh si bocah dan dia jadi terkejut, semangatnya terbang. Tubuh si bocah panas seperti api, tapi dia menggigil seperti orang kedinginan, Khu Sin Hoo telah tahu, inilah gelagat jelek, hawa Im dan Yang sedang mengamuk di dalam diri si bocah itu, Hwee-shio itu jadi terharu melihat kekuatan hati si bocah yang tak merintih waktu mengalami penderitaan semacam itu.

Pages

Subscribe to tjersildotcom RSS


Who's online

There are currently 0 users online.

Main menu 2

by Dr. Radut